Urgensi Ruang Menyusui di Kantor Tak Bisa Ditunda

Ruang menyusui yang layak, baik di kantor ataupun ruang publik, merupakan hak untuk setiap ibu.

Proses menyusui atau laktasi menjadi ritus penting bagi ibu dan bayi yang baru dilahirkannya. Aktivitas ini tak sekadar bernilai “memberi makan” belaka, tetapi menyusui juga sekaligus penentu kehidupan si bayi kelak. Oleh karena urgensinya, menyusui tak bisa ditunda atau dilewatkan, di mana pun dan kapan pun ibu dan si bayi berada. Atas dasar itulah akhirnya keberadaan ruang menyusui amat dibutuhkan.

ASI eksklusif merupakan hak semua anak yang terlahir di dunia. Seperti yang kita ketahui bahwa ada sejuta manfaat yang diberikan ASI untuk tumbuh kembang anak. Bahkan, memberikan ASI eksklusif juga akan memberikan manfaat bagi ibu itu sendiri. 

Walau belum massif, tetapi para stakeholder telah melek akan isu ini. Saat ini ibu sudah lebih mudah menemukan ruang menyusui di tempat-tempat publik, meski tak seluruh tempat keramaian menyediakan. Setidaknya, setitik harapan muncul dari langkah positif tersebut.

Menyusui di Kantor

Pemberian ASI eksklusif yang umumnya dilakukan selama dua tahun pada masanya akan menemukan permasalahan bagi ibu yang berstatus sebagai pekerja. Di tengah kewajibannya memastikan dan menyediakan ASI untuk si bayi, mereka akan berbenturan dengan kewajiban lain di kantornya.

Beruntungnya, pemerintah ambil bagian dalam menggalakkan proses pemberian ASI eksklusif ini. Hal itu terimplementasi dari beragam peraturan yang dikeluarkannya, seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Belum lagi instruksi langsung dari Presiden RI nomor 1 tahun 2017, yang menyebutkan mengenai GERMAS atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Peraturan pemerintah itu merupakan implementasi dari berbagai undang-undang yang telah dirumuskan, menyangkut hak-hak pekerja (UU No 13 tahun 2003) dan mengenai kesehatan (UU No 36 tahun 2009). Akhirnya didapat satu putusan yang berbunyi bahwa tiap-tiap perusahaan atau kantor diwajibkan untuk menyediakan ruang menyusui atau laktasi dalam rangka mendukung pemberian ASI eksklusif tersebut.

Dengan demikian, jika perusahaan atau kantor tidak menyediakan ruang menyusui, perusahaan tersebut menyalahi aturan dan dapat diberikan sanksi sesuai dengan yang telah ditetapkan. Mulai dari hukuman pidana, termasuk kurungan dan denda hingga ratusan juta rupiah, hingga pencabutan badan atau surat izin usahanya.

Kendati demikian, perlu kiranya perusahaan untuk tidak sekadar menjalankan peraturan. Perusahaan atau kantor harus menyediakan ruang menyusui yang representatif sesuai dengan standar kelayakan. Jangan malah melakukan hal-hal yang kontra-produktif, termasuk menyediakan ruang menyusui yang ala kadarnya.

Kira-kira beberapa hal di bawah ini dapat menjadi acuan atau pedoman bagi setiap perusahaan atau kantor dalam menyediakan ruang menyusui yang representatif tersebut. Standar ini ditetapkan hasil perluasan dari Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan atau Memerah ASI: “Tempat kerja harus memberikan kesempatan bagi ibu bekerja di dalam ruangan dan atau di luar ruangan untuk menyusui dan atau memerah ASI pada waktu kerja di tempat kerja.”

Berikut di antaranya:

  • Ruangan khusus berukuran minimal 3×4 meter kuadrat dan atau disesuaikan dengan jumlah pekerja perempuan yang sedang menyusui
  • Ada pintu yang dapat dikunci, yang mudah dibuka atau ditutup
  • Lantai berupa keramik, semen, atau karpet
  • Memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang cukup
  • Bebas potensi bahaya di tempat kerja termasuk bebas polusi
  • Lingkungan cukup tenang jauh dari kebisingan
  • Penerangan dalam ruangan cukup dan tidak menyilaukan
  • Kelembaban berkisar antara 30-50%, maksimum 60%, dan;
  • Tersedia wastafel dengan air mengalir untuk cuci tangan dan mencuci

Fasilitas pendukung di ruang menyusui tersebut:

  • Meja tulis
  • Kursi dengan sandaran untuk ibu memerah ASI
  • Konseling menyusui kit yang terdiri dari model payudara, boneka,
  • cangkir minum ASI, spuit 5cc, spuit 10 cc, dan spuit 20 cc
  • Media kit tentang ASI dan inisiasi menyusui dini yang terdiri dari poster, foto, leaflet, booklet, dan buku konseling menyusui)
  • Lemari penyimpan alat
  • Dispenser dingin dan panas
  • Alat cuci botol
  • Tempat sampah dan penutup;
  • AC atau kipas angin
  • Nursing apron atau kain pembatas atau pakai krey untuk memerah ASI;
  • Waslap untuk kompres payudara
  • Tisu atau lap tangan 
  • Bantal untuk menopang saat menyusui.

Demikianlah kiranya beberapa hal yang perlu diperhatikan penyedia lapangan kerja dalam menghadirkan ruang menyusui yang representatif sesuai dengan Permenkes Nomor 15 Tahun 2013. Dengan diterapkannya peraturan menteri tersebut, bukan tidak mungkin akan semakin banyak bayi dan ibu yang bisa melakukan “ibadah” ASI eksklusif ini.

Uncategorized

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*