Industri perfilman, terutama Hollywood, kerap membungkus tokoh utamanya dengan glorifikasi. Permasalahan yang kerap didapati di lingkungan, seperti Autism Spectrum Disorder (ADS), dikesampingkan. Kalau pun ada, dihadirkan dengan penyederhanaan yang tidak tepat.

Namun, diantara ribuan film yang beredar, terdapat sejumlah judul yang dianggap menggambarkan kehidupan seseorang dengan autisme secara akurat. Berikut ringkasan tujuh film dengan tema autisme sembilan tahun terakhir, termasuk satu film Indonesia.

Adam

Tahun rilis: 2009

Sutradara: Max Mayer

Pemain: Hugh Dancy, Rose Byrne

Sinopsis: Komedi romantis tentang Adam, mekanis kelistrikan dengan autisme, yang berupaya menjalin hubungan dengan Beth, tetangga di apartemennya.

My Name Is Khan

Tahun rilis: 2010

Sutradara: Karan Johar

Pemain: Shah Rukh Khan, Kajol.

Sinopsis: Menceritakan tentang Rizvan Khan, pemuda Hindustan dengan autisme. Di tengah keterbatasannya, dia berkesempatan berbicara dengan Presiden Amerika Serikat dan melakukan perjalanan lintas negara.

Ocean Heaven

Tahun rilis: 2010

Sutradara: Xiaolu Xue

Pemain: Jet Li, Zhang Wen

Sinopsis: Wang Xincheng, seorang pengidap kanker, berencana melakukan bunuh diri di tengah laut dengan mengajak anaknya yang autisme. Xincheng takut tidak ada yang menjaga anaknya setelah dia meninggal. Ternyata Wang Dafu, si anak, mewarisi bakat renang dari ibunya dan menyelamatkan ayahnya.

Temple Grandin

Tahun rilis: 2010

Sutradara: Mick Jackson

Pemain: Claire Danes, Julia Ormond

Sinopsis: Film biopic tentang Temple Grandin, perempuan dengan autisme, yang mengubah praktik peternakan dan penyembelihan hewan menjadi lebih manusiawi.

Fly Away

Tahun rilis: 2011

Sutradara: Janet Grillo

Pemain: Beth Broderick, Ashley Rickards

Sinopsis: Mengisahkan kehidupan seorang orang tua tunggal serta puterinya dengan autisme. Seiring pertumbuhan usia si anak, sang ibu menyadari cara berinteraksinya harus diubah.

The Story of Luke

Tahun rilis: 2012

Sutradara: Alonso Mayo

Pemain: Lou Taylor Pucci

Sinopsis: Setelah nenek sekaligus pengasuhnya meninggal, Luke, pemuda 25 tahun dengan autisme, harus belajar hidup mandiri. Dia berjuang mencari cinta dan penghidupan.

Rectoverso / Malaikat Juga Tahu

Tahun rilis: 2013

Sutradara: Marcella Zalianty

Pemain: Lukman Sardi, Prisia Nasution

Sinopsis: Abang, pemuda dengan autisme, tinggal bersama ibunya yang punya kos-kosan. Abang jatuh hati kepada Leia, penghuni kos. Sang Bunda cemas karena menyadari harapan anaknya sulit terwujud.

Parenting

Kegiatan seperti bersepeda atau sepak bola memang menyenangkan untuk anak-anak. Untuk orang tua, dokter dan pelatih, hendaknya mulai menyadari pentingnya menghindarkan anak-anak dari bahaya cedera olahraga yang mengancam mereka, seperti patah tulang sampai kelumpuhan total atau bahkan lebih buruk lagi.

Untuk anak-anak usia 5-14 tahun – bersepeda, basket, sepak bola, baseball, bermain di taman bermain atau trampoline merupakan kegiatan yang paling diminati. Tetapi, kegiatan-kegiatan itu pula yang paling banyak menyebabkan cedera.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan pada November/Desember 2001 di the Journal of the American Academy of Orthopaedic Surgeons, Amerika Serikat, mencatat sekitar 2,2 juta kasus patah tulang pada anak-anak, dislokasi, dan cedera otot terkait dengan aktivitas rekreasional pada tahun 2009.

John M. Purvis, MD, asisten profesor operasi orthopedik dan rehabilitasi di University of Mississippi Medical School in Jackson, menyebutkan bahwa otot, tulang, ligamen, serta tendon pada anak-anak masih dalam masa pertumbuhan, sehingga mudah cedera.

Selain itu, jumlah cedera dikarenakan aktivitas seperti cheerleading, gimnastik dan olahraga musim salju memang berkurang, tetapi resiko cedera serius bisa saja bertambah, seperti kelumpuhan.

Bermain dengan Aman

Tidak perlu mengurangi kegiatan anak, tetapi tingkatkan keselamatan mereka dengan panduan yang jelas dan peralatan yang memadai.

The American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), the Pediatric Orthopaedic Society of North America, the Canadian Orthopaedic Association, and the American Orthopaedic Society for Sports Medicine, seluruh organisasi kesehatan tersebut memulai kampanye bertajuk “Play It Safe!” untuk mengurangi cedera olahraga.

Kampanye ini merekomendasikan untuk mendukung anak-anak dalam beberapa hal, yaitu:

  • Bermainlah dalam keadaan fisik yang sehat.
  • Ketahui dan ikuti peraturan olahraga yang ada.
  • Gunakan alat pelindung tulang kering untuk sepak bola, helm khusus baseball, dan sepatu yang sesuai dengan olahraga yang diikuti.
  • Tahu bagaimana menggunakan peralatan atletik.
  • Selalu lakukan pemanasan sebelum bermain.
  • Jangan bermain ketika sedang lelah atau merasakan sakit pada tubuh.

Jangan Memaksakan

Joseph A. Bosco III, MD dari AAOS menyebutkan meskipun cedera yang muncul ringan, atlet belia tetap membutuhkan pertolongan medis yang memadai. Jangan memaksa altet belia untuk terus berlatih dalam keadaan cedera karena cedera yang tidak ditangani dapat menyebabkan kerusakan yang permanen dan penyakit pada masa mendatang seperti osteoarthritis, ujar Bosco.

Mary Lloyd Ireland, MD, dari Eastern Kentucky University di Lexington menyebutkan bahwa pelatih dan pemain tidak bisa selalu menjelaskan tentang seberapa parah cederanya. Cedera minor seperti jari yang patah bisa menimbulkan rasa sakit yang parah, tetapi cedera serius seperti gegar otak atau cedera leher tidak menimbulkan rasa sakit.

Tim dokter sebaiknya tidak menyepelekan cedera kepala dan menghindarkan pemain dari kegiatan yang dapat memunculkan gejala seperti sakit kepala, kehilangan ingatan, atau jika mereka mulai muntah-muntah ketika berlari.

Parenting