Smoothies merupakan minuman bergizi dan penuh nutrisi. Minuman ini merupakan pilihan alternatif jikalau Anda bosan mengonsumsi buah secara langsung.

Smoothies  hampir mirip dengan jus buah pada umumnya. Bedanya, tekstur jus lebih cair dibandingkan smoothies. Perbedaan ini berasal dari cara pembuatannya, dimana pada jus dilakukan penyaringan sementara smoothie tidak.

Mengonsumsi smoothies dipercaya memiliki beragam manfaat kesehatan, salah satunya menurunkan berat badan. Untuk mendapat manfaat ini, Anda bisa mencoba melakukan diet smoothie.

Apa itu diet smoothies?

Diet smoothies pertama kali dikenalkan oleh Drew Sgoutas, seorang pelatih kesehatan bersertifikat sekaligus ahli nutrisi. Ia membuat rencana diet meminum smoothie selama 21 hari.

Dalam rencana diet ini, Anda dianjurkan meminum dua kali smoothie per hari sebagai pengganti sarapan dan makan siang. Untuk makan malam, Anda dibebaskan mengisi piring dengan jenis makanan apapun, namun tetap yang berkalori rendah.

Seminggu sekali, Anda boleh melakukan cheat day, yaitu mengonsumsi makanan selain smoothie dalam satu hari penuh. Pilih makanan ringan yang rendah gula dan tinggi serat untuk mempercepat penurunan berat badan.

Pilihan makanan diet smoothies

Bahan-bahan smoothie bervariasi, namun lebih terfokus pada buah-buahan, sayur, protein, dan lemak sehat. Anda juga bisa mengombinasikan keduanya sekaligus. Yang terpenting, komposisi nutrisi yang terkandung pada smoothie seimbang.

Ada beragam menu diet smoothie yang bisa Anda coba. Pastikan untuk memilih bahan-bahan yang rendah kalori.

Pro dan Kontra Diet Smoothies

Terlepas dari betapa sehatnya mengonsumsi smoothie, aturan diet ini menuai pro dan kontra. Karena berfokus pada buah dan sayur, diet ini tentu lebih rendah kalori dan kaya akan fitonutrien.

Fitonutrien memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan tubuh. Fitonutrien juga berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh, mengatur hormon, anti-aging, hingga anti-kanker.

Selain itu, berbeda dengan diet kebanyakan, diet smoothie tidak perlu menghitung berapa banyak karbohidrat dan kalori yang masuk ke dalam tubuh.

Namun, ada beberapa kekurangan diet smoothies antara lain:

  1. Tak mampu mencukupi kebutuhan nutrisi tubuh

Mengonsumsi sayur dan buah tak cukup memenuhi kebutuhan protein dan lemak sehat dalam tubuh. Sedangkan sumber protein dan lemak terbaik ada di daging merah.

Jika Anda mengikuti diet ini, disarankan mengonsumsi hingga 50 gram protein setiap hari. Pastikan secangkir smoothie mengandung protein, lemak, dan karbohidrat yang cukup.  

Sebagai tambahan, satu hingga dua sendok biji chia dapat ditambahkan ke dalam smoothie. Biji chia juga akan menambah kadar serat pada minuman sehat Anda.

  • Tinggi gula

Buah-buahan lebih cenderung tinggi gula karena kandungan gula alaminya. Karena hal ini, penderita diabetes sangat tidak disarankan mengikuti diet ini.

Jika tetap ingin mencobanya, Anda bisa membuat smoothie sayur-sayuran tanpa tambahan gula.

  • Hasil diet smoothies tidak permanen

Diet defisit kalori sangat tidak dianjurkan, terutama bagi Anda pemula diet.

Setelah beberapa saat mengikuti pola diet ini, awalnya Anda mungkin mengalami penurunan berat badan. Namun, hasil penurunan berat badan ini tidak permanen. Bisa saja Anda kembali ke berat badan awal sewaktu-waktu setelah menyelesaikan siklus diet smoothies.

Diet smoothies termasuk ke dalam salah satu diet defisit kalori. Rencana diet ini mengurangi kalori sebanyak mungkin dan mengganti makanan dengan cairan.

Saat pertama kali menjalani diet smoothies, jalankanlah rencana diet dengan fleksibel. Anda bisa memulainya dengan mengganti sarapan dengan smoothie, dan tetap mengonsumsi makanan saat siang dan malam hari. Kemudian Anda bisa menyesuaikannya dan melanjutkan hingga siklus 21 hari.  

Hidup Sehat
Tags: 

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*