Layaknya bagian tubuh yang lain, testis juga dapat mengalami gangguan. Salah satu kondisi tidak normal yang dapat dialami testis adalah adanya cairan pada lapisan pembungkus testis atau dalam istilah medis disebut hidrokel.

Kondisi tersebut dapat kembali normal dengan sendirinya. Akan tetapi, jika terjadi pembengkakan, nyeri, dan rasa tidak nyaman pada skrotum, maka perlu diberikan tindakan medis hidrokelektomi atau operasi hidrokel.

Operasi hidrokel, tindakan apakah itu?

Seperti telah disebutkan sebelumnya, operasi hidrokel atau hidrokelektomi dilakukan untuk mengatasi kondisi hidrokel, yaitu penumpukan cairan di sekitar testis. Kondisi ini sering terjadi pada anak laki-laki, terlebih bayi yang baru lahir. Meski dengan persentase yang kecil, hidrokel juga dapat terjadi pada pria dewasa yang berusia di atas 40 tahun.

Operasi hidrokel ini bertujuan untuk mengambil cairan dan memperkecil ukuran kantong  yang terisi cairan tersebut.

Tidak setiap pasien dengan hidrokel akan langsung disarankan untuk menjalani operasi hidrokel. Biasanya, obat-obatan anti nyeri akan diberikan terlebih dahulu. Pengobatan ini sering kali dapat mengatasi nyeri dan bengkak yang ditimbulkan oleh kondisi hidrokel. Sebelum akhirnya hidrokel menghilang dengan sendirinya, setelah 6 bulan.

Akan tetapi, pada beberapa kasus, hidrokel tidak kunjung menghilang. Jika hidrokel terjadi pada bayi, dokter biasanya akan menunggu sampai anak berusia 1 atau 2 tahun, baru dilakukan operasi hidrokel.

Di samping itu, ada beberapa indikasi medis yang membuat operasi hidrokel perlu dilakukan, antara lain bila hidrokel membengkak di satu sisi skrotum, salah satu atau kedua testis terasa nyeri, skrotum terasa berat dan tidak nyaman akibat adanya pembengkakan.

Persiapan dan pelaksanaan operasi hidrokel

Seperti tindakan operasi pada umumnya, sebelum menjalani operasi hidrokel status kesehatan Anda akan dievaluasi. Anda akan diminta untuk menjalani pemeriksaan darah dan urin.

Segala jenis obat-obatan, baik herbal maupun kimia, dan suplemen yang Anda konsumsi perlu diinformasikan kepada dokter atau petugas medis. Tujuannya, untuk mengantisipasi interaksi atau komplikasi, misal dikhawatirkan ada obat yang mengganggu fungsi pembekuan darah, sehingga ada risiko perdarahan saat operasi dilakukan.

Sebelum operasi hidrokel dilakukan, petugas medis akan memasang kateter. Hal ini ditujukan untuk mengeluarkan cairan pasca tindakan operasi dilakukan, agar pasien terhindar dari infeksi.

Persiapan lainnya adalah pemberian obat bius atau anestesi. Biasanya, dokter memberikan anestesi umum. Jadi, Anda akan tidak sadarkan diri selama prosedur operasi hidrokel dilakukan. Kemudian, dokter juga akan memasang akses intravena di pembuluh darah lengan sebagai saluran untuk masuknya cairan dan obat yang diperlukan.

Setelah semua persiapan tersebut selesai, maka dokter akan membuat sayatan kecil pada skrotum dan mulai mengeluarkan cairan. Pengeluaran cairan tersebut dilakukan dengan menggunakan alat pengisap.

Hidrokelektomi juga dapat dilakukan dengan metode laparoskopi. Di mana dokter membuat sayatan-sayatan kecil dan memasukkan alat laparoskop untuk memperbaiki hidrokel.

Tindakan hidrokelektomi atau operasi hidrokel ini biasanya berlangsung selama 30 menit.

Setelah prosedur hidrokelektomi selesai dilakukan, Anda masih harus menjalani rawat inap untuk diobservasi. Jika proses pemulihan berjalan baik, biasanya Anda diperbolehkan pulang, namun masih harus menjalani rawat jalan. Hal ini ditujukan untuk memantau adanya infeksi atau komplikasi.

Meskipun aman, tindakan operasi hidrokel dapat menimbulkan infeksi atau komplikasi, di antaranya perdarahan, kerusakan testis yang dapat berujung infertilitas, efek samping obat anestesi, hingga kekambuhan atau kembalinya hidrokel.

Penyakit

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*