Kendalikan Polusi dengan Sedotan Stainless Steel Tidak Relevan

Di zaman sekarang, sampah—utamanya sampah plastik—menjadi salah satu masalah lingkungan yang paling mengkhawatirkan. Kehidupan yang serba cepat, instan, dan mobile menuntut kita untuk terus bergerak. Bagi sebagian orang, mungkin, tak lagi dapat duduk berlama-lama di sebuah kafe. Siklus itu pada akhirnya memaksa mereka untuk membungkus dan membawa pergi makanannya agar dapat mengerjakan tugas lain yang menumpuk.

Masalahnya, hal itu mengakibatkan peningkatan jumlah penggunaan kemasan beserta tetek bengek lain untuk memudahkan pelanggan dalam menikmati “bungkusannya”. Sedotan hanyalah salah satunya. Belakangan, muncul suatu gerakan yang bersifat massif untuk menanggulangi situasi tersebut. Muncullah produk pengganti sedotan lama yang terbuat dari plastik. Ia berbahan baja antikarat. Biasa disebut sedotan stainless steel atau stainless steel straw.

Awalnya, banyak yang mengira bahwa sedotan stainless steel merupakan jawaban dari semua kegelisahan penduduk bumi akan sampah plastik. Namun, setelah ditilik dan ditinjau lebih jauh, ternyata kenyataannya tak sebaik harapan yang diusung. Sebab, penggunaan sedotan stainless steel sama sekali tidak dapat mengendalikan polusi tersebut.

Justru sebaliknya. Tren penggunaan sedotan stainless steel ini malah memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain dan cenderung menimbulkan masalah baru. Bila didedah, penggunaan sedotan plastik memang menimbulkan masalah setelah produk itu digunakan, sementara sedotan stainless steel telah membuat masalah di awal bahkan sebelum produk itu dibuat.

  • Ada Apa dengan Sedotan Stainless Steel?

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, sedotan ini terbuat dari bahan baja antikarat. Untuk mendapatkan bahan itu, produsen harus menyiapkan bahan-bahan seperti besi, karbon, dan kromium. Besi dan kromium merupakan bahan tambang. Artinya, untuk dapat membuat sedotan stainless steel harus dilakukan pengeboran atau aktivitas tambang yang justru merusak lingkungan lebih parah lagi.

Setidaknya harus ada pohon-pohon yang ditebang dan tanah yang digali untuk mendapatkan bahan baku tersebut. Itu belum termasuk dampak sosial dan aspek-aspek lain dari aktivitas pertambangan tersebut yang kesemuanya berpotensi merugikan lingkungan sekitar.

Saat dibawa ke pabrik, pengolahan logam ini dari bentuk murni menjadi stainless steel kembali melibatkan proses kimia yang menghasilkan limbah. Sayangnya, limbah ini kerap dibuang ke saluran air umum atau ke sungai sehingga mencemari lingkungan dan membahayakn warga. Hal ini terjadi seperti di sungai Citarum di Jawa Barat.

Belum lagi energi yang dibutuhkan sepanjang produksi sedotan stainless steel. Malah jika dibandingkan dengan pembuatan sedotan plastik, jumlah energi yang diperlukan jauh lebih besar daripada sesuatu yang “dikambinghitamkan” tersebut.

Menurut HSU Straw Analysis yang dikerjakan oleh Universitas Negeri Humboldt dan Engr308 Technology and Environment, energi diperlukan dari awal semenjak menyiapkan bahan, pembentukan, sampai ke hasil akhir. Satu sedotan plastik memerlukan energi sebanyak 23.700 joule energi dari awal sampai akhir proses, sementara satu sedotan stainless steel memerlukan energi 2.420.000 joule energi.

Kabar buruknya lagi, pertambahan biaya produksi yang dikeluarkan bergerak garis lurus dengan pertambahan energi, sehingga semakin banyak energi yang dibutuhkan maka semakin besar biayanya. Proses pembuatan sedotan juga menghasilkan karbondioksida. Berdasarkan sumber yang sama, sedotan plastik akan menghasilkan 1,47 gram karbondioksida per sedotan, sementara sedotan stainless steel menghasilkan karbondioksida sebanyak 217 gram per sedotan. Bukan hanya menjadi sumber polusi air, sedotan stainless steel ternyata berpotensi menghasilkan polusi udara.

Jika melihat fakta-fakta tersebut, sebenarnya langkah kita untuk mengurangi polusi dengan beralih ke sedotan stainless steel tak cukup relevan. Jika kita bijak, untuk menghentikan itu cukup sederhana, yakni dengan meminum minuman secara langsung tanpa menggunakan sedotan. Atau jika tak bisa, pilihlah sedotan dengan bahan yang lebih ramah lingkungan, seperti dari bambu misalnya. Intinya, jangan sampai apa yang kita lakukan tak sesuai dengan tujuan lantaran salah kaprah dalam menilai dan melaksanakannya.

Hidup Sehat

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*