Seperti Apakah Fungsi Ventilator Dalam Prosedur Medis?

Virus Corona atau Covid-19 telah menyebar ke setiap negara. Berbagai gejala dialami oleh manusia akibat virus Corona, salah satunya termasuk gangguan pernafasan. Oleh karena itu, para tenaga medis membutuhkan peralatan khusus berupa ventilator. Fungsi ventilator dapat membuat pasien bertahan lama.

Kebutuhan Ventilator

Kebutuhan ventilator adalah salah satu masalah serius untuk segera ditangani. Di Indonesia sendiri masih mengalami kekurangan persediaan atas alat medis seperti ini. Meskipun demikian, baru-baru ini ada kabar bahwa ventilator akan dirakit di Indonesia.

Ventilator adalah alat yang digunakan untuk membantu pasien Corona dimana mereka mengalami gejala berupa gangguan pernafasan yang cukup parah. Orang-orang yang mengalami gangguan pernafasan bisa mengakibatkan kematian.

Gangguan pernafasan adalah salah satu gejala yang berat akibat virus Corona. Oleh karena itu, setiap rumah sakit perlu menyediakan ventilator, meskipun sebagian besar pasien yang terkena virus Corona mengalami gejala ringan, bahkan tidak disertai dengan gejala apapun.

Virus Corona dapat menular tidak hanya melalui kontak fisik, namun juga melalui udara. Rasio tentang orang yang terkena virus Corona dan membutuhkan alat pernafasan seperti ventilator adalah 1:4.

Kegunaan Ventilator

Kegunaan ventilator adalah untuk memasukkan oksigen ke dalam paru-paru, serta mengeluarkan karbondioksida dari tubuh manusia. Pasien yang menggunakan ventilator punya peluang untuk sembuh dari virus Corona.

Tenaga medis menggunakan tabung untuk menghubungkan mesin ventilator ke tubuh pasien. Udara akan disalurkan melalui tabung dan masuk ke mulut pasien hingga melewati tenggorokan. Pasien yang mengalami gangguan pernafasan parah akan menggunakan ventilator, namun udaranya perlu disalurkan melalui tenggorokan. Oleh karena itu, dokter perlu melakukan pembedahan di bagian tenggorokan pasien.

Ventilator juga perlu diatur sesuai kebutuhan pasien dengan menentukan jumlah nafas per menit. Meskipun ventilator bukan merupakan alat yang dapat menyembuhkan pasien dari virus Corona, alat tersebut dapat membantu pasien bertahan hidup hingga paru-paru pasien kembali normal.

Kurangnya Persediaan Ventilator

Sejumlah upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis. Presiden Joko Widodo juga telah meminta bantuan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menyediakan ventilator. Meskipun Indonesia dapat membuat ventilator sendiri, hal tersebut membutuhkan waktu. Selain itu, kebutuhan alat-alat medis meningkat karena jumlah kasus virus Corona di Indonesia terus bertambah.

Jumlah Kasus Virus Corona Di Indonesia

Dengan adanya ventilator, jumlah kasus virus Corona dapat ditekankan. Hingga tanggal 8 Mei 2020, di Indonesia mengalami penambahan kasus virus Corona sebanyak 336 kasus, sehingga total kasus yang terjadi mencapai 13.112 kasus. Ada 13 orang yang dinyatakan meninggal dunia sehingga total kematian yang terjadi telah mencapai 943 orang. Meskipun demikian, jumlah pasien yang sembuh dari virus Corona sebanyak 113 orang sehingga total pasien yang sembuh mencapai 2.494 orang.

Cara Untuk Mencegah Virus Corona

Fungsi ventilator dapat membuat pasien kembali bernafas dengan normal. Jika Anda pernah terinfeksi virus Corona dan dinyatakan sembuh, atau jika Anda belum terkena infeksi, Anda dianjurkan untuk melakukan berbagai hal untuk mencegah penyebaran virus Corona. Berikut adalah hal-hal yang sebaiknya Anda lakukan:

  • Cuci tangan dengan sabun selama 20 detik. Anda dapat menggunakan hand sanitizer sebagai penggantinya.
  • Jangan menyentuh mata, hidung, atau mulut jika tangan Anda tidak bersih.
  • Tetap berada di rumah, kecuali jika ada keperluan mendesak seperti membeli makanan atau obat.
  • Jika Anda keluar rumah, pastikan Anda memakai masker.
  • Hindari kerumunan dan jaga jarak dengan orang lain setidaknya 1,5 meter.
  • Jangan melakukan kontak fisik dengan orang lain.
  • Konsumsi makanan yang sehat seperti sayuran dan buah-buahan.
  • Berolahraga secara teratur.

Kesimpulan

Fungsi ventilator dapat digunakan jika pasien memiliki gejala gangguan pernafasan yang cukup parah. Untuk mencegah terjadinya gangguan seperti ini, Anda diminta untuk melakukan berbagai cara yang dianjurkan di atas. Jika Anda terkena virus Corona, Anda sebaiknya langsung hubungi pihak rumah sakit supaya masalah tersebut dapat segera ditangani.

Hidup Sehat

Layaknya bagian tubuh yang lain, testis juga dapat mengalami gangguan. Salah satu kondisi tidak normal yang dapat dialami testis adalah adanya cairan pada lapisan pembungkus testis atau dalam istilah medis disebut hidrokel.

Kondisi tersebut dapat kembali normal dengan sendirinya. Akan tetapi, jika terjadi pembengkakan, nyeri, dan rasa tidak nyaman pada skrotum, maka perlu diberikan tindakan medis hidrokelektomi atau operasi hidrokel.

Operasi hidrokel, tindakan apakah itu?

Seperti telah disebutkan sebelumnya, operasi hidrokel atau hidrokelektomi dilakukan untuk mengatasi kondisi hidrokel, yaitu penumpukan cairan di sekitar testis. Kondisi ini sering terjadi pada anak laki-laki, terlebih bayi yang baru lahir. Meski dengan persentase yang kecil, hidrokel juga dapat terjadi pada pria dewasa yang berusia di atas 40 tahun.

Operasi hidrokel ini bertujuan untuk mengambil cairan dan memperkecil ukuran kantong  yang terisi cairan tersebut.

Tidak setiap pasien dengan hidrokel akan langsung disarankan untuk menjalani operasi hidrokel. Biasanya, obat-obatan anti nyeri akan diberikan terlebih dahulu. Pengobatan ini sering kali dapat mengatasi nyeri dan bengkak yang ditimbulkan oleh kondisi hidrokel. Sebelum akhirnya hidrokel menghilang dengan sendirinya, setelah 6 bulan.

Akan tetapi, pada beberapa kasus, hidrokel tidak kunjung menghilang. Jika hidrokel terjadi pada bayi, dokter biasanya akan menunggu sampai anak berusia 1 atau 2 tahun, baru dilakukan operasi hidrokel.

Di samping itu, ada beberapa indikasi medis yang membuat operasi hidrokel perlu dilakukan, antara lain bila hidrokel membengkak di satu sisi skrotum, salah satu atau kedua testis terasa nyeri, skrotum terasa berat dan tidak nyaman akibat adanya pembengkakan.

Persiapan dan pelaksanaan operasi hidrokel

Seperti tindakan operasi pada umumnya, sebelum menjalani operasi hidrokel status kesehatan Anda akan dievaluasi. Anda akan diminta untuk menjalani pemeriksaan darah dan urin.

Segala jenis obat-obatan, baik herbal maupun kimia, dan suplemen yang Anda konsumsi perlu diinformasikan kepada dokter atau petugas medis. Tujuannya, untuk mengantisipasi interaksi atau komplikasi, misal dikhawatirkan ada obat yang mengganggu fungsi pembekuan darah, sehingga ada risiko perdarahan saat operasi dilakukan.

Sebelum operasi hidrokel dilakukan, petugas medis akan memasang kateter. Hal ini ditujukan untuk mengeluarkan cairan pasca tindakan operasi dilakukan, agar pasien terhindar dari infeksi.

Persiapan lainnya adalah pemberian obat bius atau anestesi. Biasanya, dokter memberikan anestesi umum. Jadi, Anda akan tidak sadarkan diri selama prosedur operasi hidrokel dilakukan. Kemudian, dokter juga akan memasang akses intravena di pembuluh darah lengan sebagai saluran untuk masuknya cairan dan obat yang diperlukan.

Setelah semua persiapan tersebut selesai, maka dokter akan membuat sayatan kecil pada skrotum dan mulai mengeluarkan cairan. Pengeluaran cairan tersebut dilakukan dengan menggunakan alat pengisap.

Hidrokelektomi juga dapat dilakukan dengan metode laparoskopi. Di mana dokter membuat sayatan-sayatan kecil dan memasukkan alat laparoskop untuk memperbaiki hidrokel.

Tindakan hidrokelektomi atau operasi hidrokel ini biasanya berlangsung selama 30 menit.

Setelah prosedur hidrokelektomi selesai dilakukan, Anda masih harus menjalani rawat inap untuk diobservasi. Jika proses pemulihan berjalan baik, biasanya Anda diperbolehkan pulang, namun masih harus menjalani rawat jalan. Hal ini ditujukan untuk memantau adanya infeksi atau komplikasi.

Meskipun aman, tindakan operasi hidrokel dapat menimbulkan infeksi atau komplikasi, di antaranya perdarahan, kerusakan testis yang dapat berujung infertilitas, efek samping obat anestesi, hingga kekambuhan atau kembalinya hidrokel.

Penyakit

Virus Corona atau Covid-19 telah menyebar ke seluruh dunia dimana virus tersebut menimbulkan jumlah kasus sebanyak 2,7 juta orang. Hal tersebut juga mengakibatkan 192 ribu orang meninggal dunia, sedangkan 762 ribu orang dinyatakan sembuh. Informasi lain beredar bahwa sinar UV (ultraviolet) dapat membunuh virus Corona. Apakah benar?

Sebuah penelitian mengklaim bahwa sinar UV adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi volume virus Corona. Sebuah universitas di Thailand telah membuat lorong sinar UV yang harus dilewati oleh mahasiswa jika ingin masuk.

Jenis-Jenis Sinar UV

Secara keseluruhan, sinar UV dibagi menjadi 3 jenis, antara lain:

  • UVA

UVA adalah jenis sinar UV yang paling dominan masuk ke dalam bumi, yaitu sebesar 95%. Sinar ini dapat melakukan penetrasi sampai ke dalam kulit dimana jenis sinar tersebut dapat mengubah warna kulit. Selain itu, UVA dapat memicu efek penuaan dan keriput pada kulit, serta memicu terjadinya sel kanker pada kulit.

  • UVB

UVB adalah jenis sinar UV yang aktif secara biologis. UVB juga dapat memicu perubahan warna pada kulit, dan membuat seseorang terkena luka bakar. Efek yang dialami tidak secepat UVA.

Selain itu, jenis sinar ini dapat memicu penuaan dan keriput pada kulit, serta risiko kanker kulit. UVB dari sinar matahari disaring oleh atmosfer sebelum sinar tersebut masuk ke dalam bumi.

  • UVC

UVC adalah jenis sinar UV yang paling mengerikan, karena sinar tersebut dapat memicu kerusakan paling parah pada kulit. UVC dapat melakukan penetrasi ke bagian paling dalam kulit manusia. UVC disaring oleh atmosfer dan tidak mencapai ke permukaan bumi. UVC adalah sinar yang dianggap dapat membunuh virus Corona.

Perkembangan Sinar UVC

Pada tahun 1878, para peneliti mampu membuat UVC secara artifisial untuk mensterilisasi berbagai benda di rumah sakit, pesawat terbang, kantor, dan pabrik. Tidak hanya itu, UVC dapat digunakan dalam proses sanitasi air minum.

Meskipun belum ada penelitian yang menyatakan bahwa jenis sinar ini dapat membunuh virus Corona, para ahli telah membuktikan bahwa UVC efektif mencegah virus sebelumnya, SARS (severe acute respiratory syndrome).

UVC dipercaya dapat melengkungkan struktur materi genetik virus dan mencegah terjadinya perkembangan di dalam tubuh. Hal tersebut dianggap sebagai salah satu cara untuk mengatasi virus Corona dimana sinar tersebut telah digunakan oleh transportasi umum di Tiongkok.

Selain itu, para peneliti telah membuat robot UVC untuk menyinari rumah sakit. UVC juga dapat digunakan di bank-bank untuk mencegah uang terkontaminasi oleh virus Corona.

Kontras Tentang Sinar UV

Meskipun diklaim sebagai sinar yang bermanfaat, menurut WHO (World Health Organization), belum ada sinar UV, termasuk UVC, dapat membunuh virus Corona. Hal tersebut justru bekerja sebaliknya, membuat iritasi pada kulit.

UVC dapat mengakibatkan luka bakar, bahkan sinar tersebut tidak dapat diarahkan ke pakaian. Selain itu, UVC dapat mengakibatkan mata silau 10 kali lebih parah dibandingkan dengan sinar lain.

Modifikasi Sinar UVC

Meskipun UVC dapat memicu gangguan pada kulit, para peneliti telah menciptakan UVC yang lebih aman untuk digunakan pada bagian kulit. Sinar tersebut bernama far-UVC. Uji coba telah dilakukan dan hal tersebut tidak memicu kerusakan DNA. Meskipun demikian, tidak ada bakteri atau virus yang terbunuh karena ukuran yang kecil untuk dijangkau cahaya.

Kesimpulan

Jadi, apakah sinar UV efektif dalam membunuh virus Corona? Sinar tersebut tidak memberikan hasil yang baik. Hal tersebut justru memicu kerusakan pada kulit. Sinar-sinar lain, UVA dan UVB belum tentu menjadi jawaban yang tepat untuk mencegah virus Corona, karena para peneliti masih membutuhkan waktu untuk meneliti kedua sinar tersebut.

Sinar UV membunuh virus Corona merupakan mitos dan membutuhkan studi lebih lanjut. Selain itu, uji coba yang dilakukan, yang melibatkan UVC, hanya terbatas pada hewan uji. Meskipun demikian, untuk mencegah penularan virus Corona, Anda sebaiknya tetap berada di rumah dan terus menjaga kesehatan.

Hidup Sehat